Kusta Dapat Disembuhkan
June 19th, 2009 | by rarzi |Anggapan salah tentang kusta di kalangan masyarakat menyebabkan banyak penderita kusta terlambat berobat sehingga mengalami kecacatan. Padahal, kusta bisa disembuhkan dan obat-obatan bisa diperoleh secara gratis di pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas).
“Kusta bisa disembuhkan, tidak mudah menular, obat-obatannya mudah diperoleh secara gratis di puskesmas,” kata Dewan Pengawas Yayasan Transformasi Lepra Indonesia dr Diana S Liben, Kamis (18/6), saat dihubungi dari Jakarta.
Diana menjelaskan, kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lain.
“Jadi, penyakit kusta bukan disebabkan kutukan, guna-guna, dosa, makanan ataupun keturunan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat,” kata dia.
Anggapan salah tentang kusta menyebabkan masyarakat terlambat datang berobat sehingga terjadi kecacatan. Penderita yang mengalami gejala awal kusta tidak merasa terganggu karena hanya ditandai bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan. “Kelainan kulit ini hilang rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak keluar keringat, tidak gatal dan tidak sakit,” ujarnya.
Setiap orang dapat kena kusta kalau tak punya kekebalan dan sering dekat penderita kusta tipe basah (lebih dari 5 bercak) yang tidak berobat, baik melalui saluran pernapasan atau kontak kulit. Sebenarnya 95 persen dari populasi penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap kusta sehingga tidak dapat tertular. Sebanyak 3 persen dari populasi bisa tertular, tetapi dapat sembuh sendiri, hanya 2 persen yang bisa tertular dan butuh pengobatan.
Namun, bila penderita kusta tipe basah sudah berobat teratur, maka tidak dapat menular. Dengan satu kali minum obat, kusta tidak lagi menular. Agar kuman bisa diberantas, penderita harus minum obat secara teratur. “Penderita kusta kering cukup minum obat setiap hari selama 6 bulan, pasien kusta basah harus minum obat tiap hari selama 12 bulan,” ujarnya menambahkan.
Keberhasilan pengobatan tergantung pada penemuan dan pengobatan secara dini, kepatuhan untuk berobat secara teratur, dan keterampilan petugas dalam mencegah kecacatan. “Yang tidak kalah penting adalah, dukungan keluarga dan masyarakat sekitar. Ini hanya bisa dilakukan bila stigma terhadap penderita dan mantan penderita kusta sudah dihapuskan,” kata Diana.
sumber : kompas.com
Related posts:
